Sabtu, 30 Oktober 2010

Usia yang Baik Untuk Menikah

Dr. Mira: 20 - 29 Tahun, Usia yang Baik Untuk Menikah
Hudzaifah.org - “Selaksa Bunga di Pelataran Hati”, itulah yang menjadi tema dari acara yang berbentuk talk show ini. Acara yang khusus muslimah tersebut, diadakan oleh SKI Fakultas Kedokteran pada hari Sabtu (23/07/05), di gedung D lantai 8 Universitas Trisakti. Materi yang diangkat ialah pernikahan dini dilihat dari syariat islam dan kesehatan reproduksi.

Pembicara yang hadir, berkompeten di bidangnya masing-masing. Pembicara pertama adalah Ustadzah Heni Handayani yang akan menjelaskan pernikahan dini dari sudut pandang Islam. Pembicara yang kedua adalah dr. Mira Roziati Dachlan, dokter lulusan Universitas Trisakti yang akan menjelaskan pernikahan dini dari sudut pandang medis. Dan bintang tamunya, adalah istri dari Haekal Siregar, pengarang buku berjudul “Nikah Dini Kereeen..!”, yakni Selly Siti Solihat yang akan menceritakan serta membagi pengalamannya seperti apa nikah dini itu.

Acara yang dimulai efektif jam 08.30 WIB ini, sangat menarik, karena selain dapat menambah wawasan kita, juga terdapat games, puisi indah yang berjudul “Untuk Suamiku”, pembagian banyak hadiah untuk pemenang games, door prize untuk penanya terbaik dan lantunan nasyid dari GSN7 yang menggugah hati pun ikut menghidupkan suasana saat itu.

Sangat banyak pengetahuan yang dapat diambil dari seminar ini, dari mulai seperti apa hukum-hukum menikah, usia berapa baiknya seorang muslimah menikah, bagaimana menghadapi pernikahan di saat masih kuliah, apa dampak dari free seks, sampai masalah pribadi wanita.

Talk show ini diawali dengan pernyataan dari Selly Siti Solihat. Beliau menceritakan bahwa beliau dan suaminya memutuskan menikah karena cinta (pacaran). Dengan kata lain, orang tua Selly tidak setuju dengan adanya pacaran. Karena itulah orang tua Selly memberikan solusi untuk menikah. Selly sendiri mengaku bahwa dengan menikah ia memiliki tempat untuk berbagi bersama suami yang dicintainya dan merasakan adanya proses pembelajaran yang luar biasa dalam rumah tangganya. “Meskipun banyak rintangan yang menghalangi, kami tetap percaya pada apa yang dikatakan Allah dalam firmannya mengenai pernikahan,” tutur muslimah yang saat ini aktif mengajar.

Masih menurut pengakuannya, cekcok di dalam rumah tangga selalu ada, tetapi hal itu selalu diatasi oleh Selly dan Haekal dengan komunikasi dan pengertian, serta mencoba untuk mengungkapkan apa yang dirasakan oleh keduanya. Berdasarkan penjelasan Ustadzah Heni bahwa ketika di saat seseorang baik laki-laki maupun perempuan sudah dapat membedakan yang haq dengan yang batil, maka ia terikat dengan hukum syara’ (hukum asal perbuatan-perbuatan), Al ashlu fi af’al attaqayyudu bi al hukmi asy syara’. Hal ini merupakan satu dari berbagai hal yang mendasari seseorang untuk menikah.

Ketika seseorang tidak bisa lagi menjaga kesucian dan akhlaknya, maka ia wajib menikah. Ketika seseorang masih dapat menjaga kesuciannya maka hukumnya menjadi sunah, dan jika tujuan seseorang menikah adalah untuk menyakiti istri atau suaminya maka hukumnya adalah haram. Sedangkan nikah dini itu sendiri hukumnya sunah dalam usia remaja. Adapun syarat kesiapan seseorang ingin menikah adalah kesiapan ilmu, materi atau harta dan fisik atau kesehatan.

Di dalam sebuah pernikahan, yang menikah bukan hanya dua mempelai, namun antar dua keluarga besar. Maka ketika hubungan antara dua keluarga besar itu menyatu karena sebuah ikatan pernikahan maka keduanya harus selalu mem-back up sistem dan saling men-support. Untuk itulah ada berbagai konsekuensi dalam pernikahan dini, yakni memerlukan keteguhan jiwa, memiliki manajemen waktu yang canggih, tidak melalaikan kewajiban menuntut ilmu dan tidak melalaikan kewajiban memberi nafkah kepada istri.

Seringkali suatu pernikahan dini menjadi suatu momok yang negatif di masyarakat. Masih banyak masyarakat yang memiliki persepsi bahwa pernikahan dini sering terjadi karena ‘kecelakaan’, padahal pernikahan dini tidak selalu seperti itu, karena ternyata seks dalam pernikahan merupakan satu-satunya solusi untuk menghindari penyakit menular seksual. Hal itu diungkapkan oleh dr. Mira Roziati dan beliau pun mengakui bahwa usia yang baik untuk menikah adalah 20-29 tahun karena secara medis reproduksi dan jumlah ovumnya masih sangat baik. Yang pasti masih banyak lagi yang dibahas dalam talk show tersebut.

Ketua Pelaksana acara, Sri Novianty, mahasiswi Fakultas Kedokteran angkatan 2002, menyatakan bahwa meskipun tidak memenuhi target yang ingin dicapai, yakni 66 peserta, dari 200 peserta yang diharapkan, namun acara ini terbilang sukses karena materi yang bagus dan keseriusan peserta mengikuti acara ini dari awal sampai akhir. Dan masih menurut pernyataannya, persiapan acara ini adalah kurang lebih selama 4 bulan dan seharusnya acara ini diadakan di bulan Juni, namun karena suatu keadaan yang mendesak mengharuskan acara diundur menjadi bulan Juli. Sebelumnya setiap tahun, pernah diadakan seminar seperti ini, hanya saja judulnya yang berbeda. “Kami ingin peserta yang hadir dapat bertambah ilmu pengetahuan dan wawasannya mengenai pernikahan dini yang dilihat dari sudut pandang Islam dan dunia medis, serta harus ada keseimbangan di antaranya,” tuturnya saat menjelaskan tujuan dari acara ini.

Beberapa peserta yang kami wawancarai mengomentari bahwa acara ini sangat bagus karena tema yang diangkat sangat memberikan wawasan dan masukan-masukan, termasuk pembicaranya. Hanya saja, bintang tamunya kurang aktif berbicara. Sebagian dari mereka juga menyesalkan ketidakhadiran ikhwan (laki-laki) untuk mendapatkan wawasan seperti ini juga. Di saat itulah kami menanyakan tanggapan sang ketua pelaksana mengenai kritik tersebut. Beliau pun menanggapi bahwa jika hal itu dilakukan maka pembicaraan yang akan dibahas menjadi terbatas dan dapat tercipta suasana penuh kesungkanan karena ada banyak materi kewanitaan yang sepertinya sulit dibicarakan di depan para ikhwan.

Akhirnya, acara yang dimulai sejak pukul 08.00 ini, ditutup pada pukul 14.00 WIB. Sungguh banyak yang dapat dipetik dari acara ini (sumpe deh! ^ _ ^ -red). Semoga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dan mengena di hati para peserta yang hadir, sehingga dapat mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap pernikahan dini menjadi hal yang dapat diterima, sebagai sesuatu yang lazim dan memiliki banyak manfaat serta solusi. (Nindhita G.M/Fanny. R/Anugerah.W)

http://www.hudzaifah.org/Article246.phtml

Perawan ?????

Apakah Anda pernah membaca tentang hasil penelitian Komnas Anak tahun 2008? 62,7% remaja SMP sudah tidak perawan lagi. Terus akhir-akhir ini juga dibeberapa majalah dimuat mengenai tulisan tentang fenomena seks di usia remaja. Yang paling mengerikan adalah fakta bahwa ada remaja SMP yang mengaku melakukan hubungan seks di rumahnya sendiri di ruang televisi. Belum lagi, membaca artikel di majalah lain mengenai prostitusi di kalangan siswi remaja, ternyata hal itu dibuktikan benar pula dari penelitian yang dilakukan majalah tersebut.

Entah karena kurang perhatian orang tua, sekolah yang kurang dapat mengontrol hal ini atau memang karena tuntutan kemajuan jaman yang memaksa remaja melakukan hal ini? Entahlah. Remaja memang merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Tugas utamanya adalah pembentukan identitas atau konsep diri, dan membentuknya dengan baik memang tidak mudah. Masalah-masalah remaja seperti ini, sering timbul karena konsep diri remaja juga yang bermasalah. Mengijinkan dirinya melakukan hal ini, merusak diri sendiri karena ia menilai dirinya secara kurang tepat.

Saat ini, sulit menemukan figur yang tepat untuk dijadikan model alias contoh bagi remaja untuk bertindak sebaiknya ia seperti apa. Hal ini, tampaknya dapat membuat remaja buntu mau harus bergerak di mana. Apalagi, informasi remaja juga sangat terbatas atas masalah ini. Dan sedihnya lagi, batasan yang kaku tanpa memberikan penjelasan, membuat remaja yang RASA INGIN TAHUNYA BESAR, malah ingin coba-coba, jadinya SALAH JUGA!

Beberapa kondisi remaja yang pernah penulis lihat, mungkin pula dapat memberikan gambaran remaja kita, ada yang menyedihkan ada dan ada pula yang mengharukan. Di pinggiran Jakarta Barat, Dumpit, masalah seks dengan melegalkannya menjadi pernikahan dini atas dasar masalah ekonomi yang mendesak, tampaknya sudah biasa. Orang tua di sini malah yang membiarkan anaknya menikah dini agar perekonomian orang tua membaik. Apa remaja ada pilihan?

Di sisi yang lain, di bagian Jakarta Barat yang lain, di daerah elitnya, remaja-remaja berkumpul untuk membahas bahwa pacaran sebaiknya tidak dilakukan dahulu, terkait dengan nilai-nilai budaya dan agama. Guru-guru yang memfasilitasi untuk pembahasan ini. Jangankan bicara mengenai seks secara vulgar, pacaran saja tidak boleh. Baik yah guru-gurunya, tapi apa itu cukup?

Ada pula, remaja yang khusus dibawa orang tuanya dari luar negeri untuk dikonsultasikan ke profesional, orang tua mulai prihatin karena anaknya pernah pulang hingga larut malam dengan ‘cipok’ sana-sini di lehernya. Usut punya usut, orang tua memang tidak pernah punya waktu dengan anaknya. Jadinya kaget deh, bingung.

Meski dianggap penting, pendidikan seks bagi remaja belum terlalu banyak dilakukan ternyata. Jarang ada guru yang kreatif yang bisa memfasilitasi hal ini, tapi ada koq seperti di atas, meski masih perlu dibenahi. Nah, mengharapkan dari guru saja, sebagai orang tua juga tampaknya tidak tepat. Sumber utama remaja bisa mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai seks (hal-hal yang berhubungan dengan jenis kelamin sampai dengan hubungan seksual) hanyalah bisa didapat secara tepat dari orang tua atau keluarga. Akan tetapi, biasanya orang tua atau keluarga sendiri yang risih membahasnya. Untungnya banyak buku-buku yang jadi pedoman untuk membahas masalah ini. Jadi bukan alasan untuk sulit melakukannya. Mungkin masalahnya, ada waktu tidak ya untuk membahasnya?

Akan tetapi yang paling penting sebagai remaja, tampaknya perlu untuk lebih MAU MENGAMBIL SIKAP DAN MENJADI ASERTIF (berani berkata ‘tidak'), bekal yang tampaknya akan dapat menjawab tantangan apapun agar tidak tergerus oleh jaman. PUNYA KONSEP DIRI YANG BAIK ITU MEMANG TIDAK MUDAH. AKAN TETAPI, SETIDAKNYA REMAJA TIDAK PERLU MERUSAK DIRI SENDIRI. BUKTIKAN MENJADI YANG TERBAIK DENGAN PRESTASI, MASA DEPAN TETAP DITANGAN PARA REMAJA, HARAPAN BANGSA KITA… Sebagai orang yang sudah lebih tua sedikit, mendukung remaja untuk maju. Kalau remaja ingin konsul sewaktu-waktu, silakan saja :)

Arti Keperawanan

Cukup lama bagi saya untuk memilih judul tulisan ini, bahkan mung­kin lebih lama waktu yang saya per­lukan untuk memilih judul daripada meng­ung­kapkan apa yang saya pikirkan ke dalam tulisan. Saya belum ingin menim­bulkan per­ang dunia kedelapan dengan menem­patkan judul yang ter­lalu meman­cing, seperti “Keperawanan, Pen­ting Ga Sih?” atau sejenis­nya. Meng­apa saya menulis hal ini, yang pasti tidak ber­kaitan dengan White Day saat tulisan ini ter­jadwal untuk diterbitkan.

Tidak bisa dipung­kiri isu ini ada di mana-mana di sekitar tem­pat ting­gal kita. Mung­kin sudah ada sejak dulu, cuma kini isu semakin tidak malu-malu lagi untuk tam­pil di muka publik – tidak seperti saat-saat dulu.

Salah seorang barablog yang sering melan­cong ke blog ini per­nah, Bli Wira, per­nah menulis “Hamil Sebelum Menikah”, dan tulisan sejenis banyak sekali jika kita men­coba menemukan dengan mesin telusur di inter­net saat ini. Demikian juga dengan kasus-kasus pemer­kosaan yang bahkan ada NGO melan­sir angka kejadian­nya di Indonesia men­capai satu kasus setiap dua harinya – ya tentu kasus-kasus ini adalah yang ter­catat (yang tidak, Anda bisa bayangkan sendiri).

Walau isu-isu seperti itu mung­kin tidak ber­kaitan lang­sung dengan judul yang saya kedepankan, namun satu dua-nya masih memiliki benang merah. Keperawanan adalah isu yang sangat sen­sitif, bahkan saking sen­sitif­nya bersiap-siaplah Anda men­dapatkan satu gam­paran telak jika Anda menanyakan hal itu pada seorang teman.

Selain sen­sitif, isu ini juga kom­pleks oleh karena ada banyak hal yang saling tarik ulur ter­libat di dalam­nya, norma agama dan kesusilaan bagi mereka yang belum resmi ber­pasangan, fak­tor kesehatan, fak­tor dorongan ego, dan seba­gainya. Di negara tetangga per­nah diadakan survei, 15.000 remaja diwawan­carai, hanya 13% dari mereka yang menyatakan akan melakukan ikrar keperawanan (vir­ginity plegde), setahun kemudian 53% –nya ber­kata, “ikrar apa?”

Di sisi lain, seper­tiganya ber­kata bahwa mereka per­nah melakukan hubungan sek­sual, setahun kemudian 10,5% dari anak-anak ini meng­atakan diri mereka masih perawan. *)

Kadang kita bisa melihat atau men­dengar, ada seseorang yang marah habis-habisan pada kekasih­nya karena men­dengar rumor bahwa sang kekasih sudah tidak lagi per­awan. Tentu saja kekasih­nya menyang­kal, tapi ia tak bisa mem­buk­tikan apa-apa. Ini bisa mem­buat kedua pihak dep­resi berat.

Kadang saya ber­tanya, apa yang bisa dibuk­tikan? Ada metode memang untuk menilai ada tidak­nya kekerasan sek­sual, namun tes keperawanan – tunggu dulu! Saya belum per­nah dengar ada dok­ter yang bisa melakukan tes keperawanan, apa Anda per­nah dengar?

Baik pada laki-laki atau pun per­em­puan, its nearly impos­sible. Kalau laki-laki oke-lah, tidak akan sesering wanita yang men­jadi dalam catatan sejarah men­jadi “korban” tes keperawanan. Mari kita lihat secara sederhana.

Sejak zaman dulu, salah satu metode yang paling klasik digunakan adalah melihat­nya himen (selaput dara) yang utuh adalah tanda keperawanan. Dapat­kah itu masih digunakan sekarang?

* Jika himen masih ada (utuh), itu mung­kin tanda – tapi bukan jaminan – keperawanan, karena tidak semua jenis himen akan robek oleh aktivitas sek­sual. Ada himen yang sangat eles­tis, bahkan dalam beberapa kali aktivitas-pun akan masih tetap utuh. Atau per­nah­kah Anda men­dengar hymenorr­haphy – sebuah prosedur operasi untuk meng­em­balikan himen? Demikian juga sebalik­nya, himen bisa robek atau tidak ada lagi oleh hal-hal lain selain aktivitas seksual.
* Jika himen tidak utuh, robek atau seba­gainya, itu mung­kin men­jadi tanda bahwa vagina sudah ter­penetrasi – tapi apakah karena aktivitas sek­sual? Belum tentu, peng­gunaan tam­pon, aktivitas berat dapat merobek himen yang rapuh. Banyak per­em­puan yang memiliki himen sangat tipis, rapuh, mudah ter­egang atau bahkan sudah ter­obek semen­jak lahir. Himen dapat robek, atau semata meng­hilang, pada masa kanak-kanak, bahkan tanpa per­em­puan itu sen­diri menyadarinya. Atau mung­kin himen robek karena prosedur operasi medis seperti pada hymenotomy jika ditemukan kon­disi imper­forate hymen.

Jadi janganlah Anda datang ke dok­ter dan meminta pemerik­saan untuk mem­buk­tikan bahwa pasangan yang akan Anda nikahi masih per­awan secara medis. Karena jelas sekali, selain tidak ada garansi bahwa keperawanan dapat dibuk­tikan, tes ini jus­tru akan ber­dam­pak sangat negatif bagi yang men­jalaninya. Katakanlah jika Anda seorang per­em­puan (di luar fakta apakah Anda per­awan atau tidak) dipaksa untuk men­jalani pemerik­saan seperti ini, apakah tidak akan trauma psikologis?

Tes keperawanan juga melang­gar hak asasi kemanusiaan, menurut Amnesty Inter­natio­nal tes keperawanan merupakan ben­tuk kekerasan ter­hadap per­em­puan. Tentu tidak akan pihak medis yang akan mau melakukan hal yang tidak bisa dibuk­tikan benar tidak­nya, melang­gar hak asasi, apalagi dengan memaksa pasiennya.

Nah, sekarang bagi Anda – yang memiliki pasangan. Setelah meng­etahui tidak ada cara meng­etahui bahwa pasangan Anda seorang per­awan atau bukan – kecuali dengan pengakuan­nya sen­diri. Apa masih ber­pikir untuk mempersoalkannya?

Keperawanan mung­kin seperti per­asaan manusia yang disebut cinta. Kita tak per­nah tahu apakah pasangan kita benar-benar cinta atau tidak, kita hanya bisa men­jaga per­asaan itu dalam seben­tuk keper­cayaan. Kita bisa cukup per­caya bahwa cinta itu ter­bukti ada di antara pasangan, namun keper­cayaan tidak per­nah bisa men­jadi bukti yang nyata, tapi bisa cukup men­jadi lebih kuat dari bukti yang nyata itu sendiri.

Ketika Anda merasa hati anda memilih seorang pasangan, apakah hati Anda mem­bebani dengan draft ser­tifikasi keperawanan yang harus ter­penuhi? Jika iya, apa bedanya Anda dengan orang yang ber­teriak, jika kamu cinta ber­ikanlah keperawananmu padaku!

Kehidupan penuh mis­teri, tidak tahu apa yang mung­kin kejutan yang dihan­tarkan ke depan pintu waktu anda. Jika Anda ber­temu dengan hal-hal yang Anda dam­bakan, Anda patut ber­syukur, namun jika Anda ber­jodoh dengan hal-hal yang bahkan lebih menyakitkan dari mimpi ter­buruk Anda, tetaplah ber­jalan – karena demikianlah kehidupan.

Keperawanan mung­kin tidak bisa diuji atau dibuk­tikan. Namun men­jaga keperawanan hingga tiba di pelaminan bukan ber­arti tidak mung­kin. Karena mung­kin itu bisa men­jadi kejutan ter­in­dah yang bisa Anda han­tarkan ke pintu waktu pasangan hidup anda. Saya bisa menuliskan beberapa tips untuk itu, namun perlu diingat, bahwa tips ini belum tentu sesuai dengan semua orang. Jika Anda merasa tips ini tidak sesuai, janganlah diikuti. **)

* Belajar meng­har­gai diri anda dan tubuh anda. Seba­gaimana Anda tidak ingin ber­bagi barang pribadi anda dengan orang lain, demikian juga dengan tubuh anda.
* Hadiri pesta dan per­jamuan. Adalah hal yang baik untuk ber­sosialisasi jika Anda menyukainya, jangan mem­batasi diri untuk ber­gaul karena ada beberapa hal positif yang mung­kin Anda per­oleh. Namun jika Anda melihat (beberapa) pasangan yang mulai menuju ke kamar tidur, itu adalah wak­tunya Anda untuk kem­bali pulang. Jika Anda ke sana ber­sama seseorang, atau ber­temu seseorang di sana, jelaskan pada mereka bahwa Anda ingin tetap aman hingga per­nikahan. Tidak ada hal lain yang perlu dijelaskan.
* Hor­mati diri anda, dan orang lain akan meng­hor­mati Anda. Jika ada orang yang mener­tawakan atau mengolok-olok Anda, acuhkan – balik badan dan ting­galkan mereka.
* Tetap ber­temu dan ber­kencan. Jangan putus asa, demikian juga jangan putus asa untuk merasa perlu tetap sen­diri. Ciuman selamat malam yang roman­tis, sebuah pelukan, atau sekadar ber­pegangan tangan dengan orang yang men­jadi kekasih anda dan Anda sayangi serta bahagia ber­samanya adalah hal yang cukup pantas.
* Orang bisa ber­terus terang dan tam­pak jujur (blak-blakan) ten­tang kehidupan sek­sual yang per­nah mereka alami. Namun untuk disadari bahwa tidak semua orang yang seperti ini dapat diper­caya begitu saja.
* Ketika Anda memutuskan untuk tetap per­awan hingga menikah, bukan ber­arti di luar sana tidak ada lawan jenis yang juga memiliki komitmen sama yang ter­nyata sangat cocok dengan Anda.
* Jangan ber­ada hanya ber­dua saja dengan lawan jenis di tempat-tempat di mana sangat mudah melakukan hubungan seks secara privat. Seperti ruang tidur, rumah yang kosong, di dalam mobil di area yang terpencil.
* Belajar­lah dengan baik meren­canakan kencan di area publik terbuka.
* Jangan “melang­kah” lebih jauh dari “area” aktivitas yang belum per­nah Anda coba saat berkencan.
* Meng­etahui bahwa Anda masih per­awan mem­bantu Anda men­cegah banyak efek stres daripada sebaliknya.
* Bawalah sesuatu yang bisa meng­ingatkan seketika bahwa meng­apa Anda memutuskan untuk tetap per­awan hingga per­nikahan tiba. Semisal sebuah cin­cin per­jan­jian, atau foto kakek Anda yang galak di dalam sebuah liontin.

Choosing to remain a vir­gin, until mar­riage, is a per­sonal decision for either sex. Once you have come to a well thought out decision, do not waver from it nor allow anyone to talk you out of it.
“”

Karena saking kompleks-nya, banyak pan­dangan yang tidak bisa saya wakilkan di sini. Namun menurut saya pribadi, adalah pen­ting bagi orang untuk tetap men­jadi per­awan hingga tibanya waktu per­nikahan dengan seseorang yang “The one and only”, namun tidak sebalik­nya mem­buru dan mem­per­tanyakan status keperawanan orang lain.

Lalu bagaimana pen­dapat Anda?

* Dikutip dari: Teen Vir­ginity Pledges: Can They Work?

** Dikutip dari: How to Stay A Virgin?

Copyright secured by Digip­rove © 2010 Cahya Legawa
Diambil dari: Keperawanan Dalam Perspektif Kekinian oleh Cahya.

Pendidikan Sex Pada Usia Dini

Bekali Pendidikan Seks di Usia Dini

Apakah si kecil mulai menanyakan pada Anda tentang jenis kelaminnya? Jika iya, berarti buah hati sudah siap untuk diajarkan pendidikan seks sekarang juga. Selain orangtua di rumah yang dapat memberikan pendidikan seks pada anak, guru-guru di sekolah pun memiliki andil yang besar untuk membekali anak-anak didiknya tentang seks edukasi. Menurut A.T. Meilandari, S.sn, Marketing Communication Carpediem Indonesia School, mengatakan pengenalan seks pantas diberikan pada anak-anak usia balita selama masih dalam kadar yang tidak berlebihan, serta masih mengacu pada hal-hal yang sederhana.
Melalui pendidikan seks di sekolah, justru bekal anak semakin matang tentang seksualitas dan sangat bermanfaat di kemudian hari. Anak juga mendapatkan pengetahuan ketika bersikap, seperti apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Mengingat beberapa kejadian penyimpangan banyak terjadi di masyarakat, pendidikan seks sejak dini pada anak memungkinkan mereka untuk melindungi diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.
Ajarkan pada anak untuk mengatakan bisa TIDAK pada orang dewasa yang belum dikenal/ asing. Ini menjadi salah satu pencegahan yang efektif agar tidak terjadi pelecehan seks dan hal-hal lain yang tidak diinginkan.
Metode mendidik di sekolah pada murid-murid pra sekolah dan TK tentang pendidikan seks, dapat dilakukan dengan cara:

* 1 tahun
Perkenalkan anak pada bagian tubuhnya sendiri.Di usia ini, anak perlu diperkenalkan akan anggota tubuh. Perkenalkanlah nama bagian tubuh, serta perbedaan dan fungsinya, saat Anda sedang memandikan atau mandi bersama anak. Anda juga bisa menggunakan buku dan alat peraga, boneka manusia misalnya. Jangan lupa untuk tetap bersikap tenang saat Anda harus bertelanjang di depan anak saat mandi atau berganti baju.

* 2 tahun
Bisa mengenali dan menyebutkan bagian tubuh Pada usia 2 tahun, umumnya anak sudah bisa menyebutkan bagian tubuhnya dengan lancar, seperti mata, hidung, telinga, tangan, dan kaki. Untuk membuatnya lebih mengenal bagian tubuh lainnya, Anda juga bisa membuat kegiatan ini lebih menyenangkan. Kemaslah dalam bentuk permainan. Sebutkan bagian tubuhnya (Anda hanya mengucapkannya saja), misalnya telinga, kemudian ajak si kecil untuk segera memegang telinganya. Begitu juga pada bagian tubuh lain yang Anda sebutkan.

* 3 tahun
Mengenal perbedaan Jika si kecil sudah bisa mengenali bagian tubuhnya sendiri, kini waktunya untuk mengenalkan perbedaan jenis kelamin. Perkenalkan 2 kategori jenis kelamin lelaki dan perempuan. Jelaskan juga alat kelamin lelaki adalah penis dan perempuan adalah vagina, serta perbedaan bentuk dan fungsinya. Dengan memperkenalkan bagian-bagian tubuh dan perbedaannya, anak akan memiliki pandangan positif terhadap tubuh.

* 4 tahun
Menjaga diri Saat anak sudah semakin besar, ajarkan bahwa bagian tubuhnya—alat kelamin— tidak boleh dipegang oleh sembarang orang, kecuali oleh ibu (saat memandikan) dan dokter (bila sedang sakit). Mereka harus segera melaporkan langsung kepada orang tua atau guru apabila ada orang lain yang menyentuh bagian pribadi tubuhnya. Selain sebagai bentuk pendidikan seks untuk menjaga bagian pribadi tubuhnya, hal ini bisa membuat anak terhindar dari kekerasan seksual.

* 5 tahun
Tertib dan Peduli Diri Sendiri Seiring perkembangan usianya, pada tahap ini biasakan anak membuang air kecil di tempat yang tepat. Biasakan dia buang air kecil di toilet, bukan di pohon, semak-semak, ataupun tempat umum yang terbuka. Untuk berganti baju juga biasakan mencari ruangan atau toilet dan tidak melakukannya di muka umum. Ajarkan dan biasakan anak membersihkan alat kelaminnya dengan benar, terutama setelah BAK/BAB. Jangan lupa juga untuk mengajarinya selalu mencuci tangan setelah BAK/BAB, dan menjelaskan bahwa kuman bisa masuk melalui vagina/penisnya dan anal.

Di luar semua itu, orangtua dan guru merupakan tempat bertanya terbaik bagi anak. Jadikan seks sebagai sesuatu yang alami dan merupakan bagian pribadi dari kesehatan. Seks bukanlah sesuatu yang salah, jorok, kotor, ataupun memalukan karena merupakan bagian dari pertumbuhan yang normal, sehingga tidak perlu dicemaskan. Jadi, sudah bukan zamannya lagi menanggapi pendidikan seks sejak dini adalah tabu bagi buah hati Anda.
Do and Don’t
Dalam memberikan pendidikan seks pada anak, jangan samakan ketika Anda mengajarkan pada orang dewasa. Perlu hati-hati dan bahasa yang sederhana, yang paling penting adalah contoh konkret agar buah hati mudah mengerti atas penjelasan Anda. Berikut tips untuk Anda:

1. Boleh
- Berikan peragaan-peragaan yang menarik dalam menjelaskan pengertian tentang
seks.
- Gunakan contoh-contoh orang, seperti Ibu / Ayah, teman, atau orang-orang
terdekat yang dikenal anak dan Anda.
- Berikan penjelasan dengan kata-kata yang mudah dipahami / sangat sederhana.
- Tekankan pada buah hati, meskipun berbeda gender tetapi tidak boleh membedakan
satu sama lain.

2. Tidak
- Jangan pernah memberikan penjelasan dgn kata-kata yang baru anak dengar,
apalagi istilah-istilah yang sulit.
- Jangan memberikan pengertian dengan sangat vulgar.
- Jangan memberikan penjelasan dengan terlalu serius sehingga membuat anak-anak
bingung

Selasa, 26 Oktober 2010

SEKS MENYIMPANG Waspada, "Virus" Lesbian Mengancam Remaja Putri Jakarta

Di tengah pesatnya kemajuan pembangunan Kota Jakarta, ternyata perilaku seks menyimpang sudah menjadi rahasia umum. Fenomena kaum lesbian, homoseksual bahkan sampai heteroseksual dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Fenomena lesbian malah sudah terjadi sejak lama Memang, membandingkan fenomena lesbian yang terjadi dulu dengan yang sekarang, tentu sangat berbeda. Perkembangannya sekarang makin pesat dan cenderung tak terkendali. Bahkan, sudah menjadi gaya hidup sebagian masyarakat Ibu Kota. Karena itu, para orangtua harus mengawasi remaja putrinya sehingga dapat menghindari ancaman virus lesbian.

Misalnya, yang dikisahkan oleh salah seorang lesbian, sebut saja Bebi (bukan nama sebenarnya). Menurut dia, ribuan remaja perempuan di Jakarta sudah menjadi pelaku lesbianisme. "Rata-rata sih umurnya 17-18 tahun. Ada yang memang dari awal sudah belok, tapi kebanyakan dari mereka ketularan karena 'gaul'," ujar Bebi, sang buchi sebutan lain lesbi.

Ada beberapa istilah yang mereka gunakan dalam komunikasi di antara komunitas mereka sendiri, seperti buchi, sebutan untuk pasangan yang berperan sebagai pria. Gaya mereka juga cenderung berpenampilan seperti laki-laki, dengan potongan rambut bondol dan baju gombrong. Sedangkan femm, sebutan untuk pasangan yang berperan sebagai wanitanya, penampilan mereka layaknya perempuan normal pada umumnya, yakni feminim. Ada juga andro, di mana orang tersebut dapat berperan sebagai pria dan juga sebagai wanita.

Fenomena ini sungguh sudah tidak tersembunyi lagi. Tidak jarang beberapa di antaranya menunjukkan perilaku seks menyimpang mereka secara terang-terangan di masyarakat. Seperti yang dapat ditemui di salah satu restoran cepat saji di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, yang merupakan salah satu tempat berkumpulnya komunitas lesbian. Khususnya, pada setiap malam Minggu, dapat ditemui pasangan-pasangan lesbi yang berkunjung dan bersikap layaknya orang pacaran, bergandengan tangan, bermesraan, bahkan sesekali mencium pasangannya. Fenomena seperti itu seakan-akan sudah tidak menjadi tabu lagi bagi mereka.

"Kita sih cuek aja, yang penting kita ngerasa nyaman dengan pasangan masing-masing. Kalau ada yang ngerasa keganggu dengan adanya kita, ya gua nggak peduli. Justru menurut kita, keberadaan lienes (lesbi) itu jadi nambah warna-warni dunia. Kalau nggak ada kita, mungkin dunia terasa hambar banget ya, cuma ada cewek sama cowok, nggak variatif," kata Bebi.

Bebi merupakan salah satu di antara lesbi yang sudah merasakan keanehan pada dirinya sejak dia duduk di bangku kelas VI SD. Seiring bergulirnya waktu, dia terus menyadarinya dan mantap untuk bersikap seperti laki-laki dan menyukai sesama jenis. Sampai saat ini pun dia terus berikrar untuk tetap menjadi dirinya yang sekarang. "Gua termasuk pure buchi, maksudnya, gua ngerasain ini bener-bener dari diri gua sendiri, bukan karena pergaulan. Tapi, sekarang malah cewek-cewek nganggap lesbi nih gaya hidup. Katanya, basi aja rasanya kalau belum pernah ngerasain 'belok'," ucapnya.

Saat ditanya mengenai pendapat orang-orang di sekitarnya tentang perubahannya itu, dia justru menjawab dengan santai bahwa keluarganya sudah mengetahuinya. "Keluarga gua semua sudah tahu gua kayak gini. Ya, namanya orangtua, pasti kecewa. Siapa juga yang mau anaknya kayak begini.

Tapi, mau gimana lagi. Gua juga nggak minta dilahirin kayak gini, kok. Jadi, gua jalanin saja apa adanya. Malah, gua pernah lho pacaran sama sepupu gua sendiri," ujar Bebi lagi, yang saat ini sedang kuliah di semester II di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Fatwa MUI

Dalam ajaran agama apa pun, tentu hal itu tidak pernah dibenarkan. Tetapi, fenomena itu sudah telanjur terjadi dan mengalir begitu saja. Menurut Sekretaris Komisi Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, MUI memang belum pernah mengeluarkan fatwa mengenai keberadaan lesbi. Tetapi yang jelas, dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi, hukumnya termasuk zina dan sudah pasti sangat dilarang.

"MUI belum pernah mengkaji tentang fatwa yang harus dikeluarkan mengenai hal ini. Tapi, kalau ternyata keberadaan komunitas ini makin pesat perkembangannya, tentu kami akan mengkajinya lebih lanjut," kata Amirsyah.

Setelah diteliti lebih lanjut, fenomena penyuka sesama jenis ini cenderung lebih sering terjadi di negara-negara berpaham demokrasi, yaitu negara yang berkiblat pada kebudayaan Barat, termasuk Indonesia. Jadi, para orangtua harus waspada karena remaja putrinya bisa terjangkit virus lesbian.

Berbeda dengan negara Islam yang berpedoman pada hukum dan syariat Islam, sehingga begitu terjadi perilaku lesbianisme, tentu langsung ditindak sesuai hukum Islam. Sedangkan di Indonesia, yang masih berpedoman pada hak kebebasan untuk hidup, walaupun tetap berpijak pada norma dan aturan, tetapi belum ada peraturan khusus yang membahas masalah fenomena perilaku seks menyimpang, sehingga komunitas ini justru berkembang dengan bebas.

"Butuh pembinaan secara moral terhadap perilaku lesbi tersebut, baik dari lingkungan, keluarga, maupun dari dirinya sendiri. Yang dapat kami lakukan hanya mengadakan pendekatan secara moral dan religi saja, selanjutnya kembali ke individu masing-masing. Sebab, masalah ini tidak mudah, butuh pengkajian dan penelitian baik secara psikologis maupun dari sisi kesehatan yang dapat menjelaskan lebih mendetail," kata Amirsyah.

Ia mengusulkan agar pengkajian tersebut dimulai dari mahasiswa untuk turut membantu memecahkan fenomena ini. Sebab, mahasiswa dipandang dapat melakukan pendekatan yang jauh lebih intensif dengan para pelaku lesbianisme dibanding pemerintah. Karena itu, dibutuhkan kerja sama yang konsisten dengan berbagai pihak terkait untuk menekan perkembangan komunitas penyuka sesama jenis ini, tidak hanya lesbi, tetapi juga seks menyimpang. (Charisma/Yon Parjiyono)

Dokter Edward Armando, `Raja Aborsi" Surabaya

Dokter Edward Armando, `Raja Aborsi` yang Nyaris Tak Tersentuh Hukum
TempatRajin Setor`Upeti',Tempat Praktik Dijaga Pria Berambut Cepak
dr Edward Armando kembali dingkap Polda Jatim, karena diduga melakukan praktik aborsi secara ilegal. Penangkapannya ini untuk kedua kalinya, sejak terbelit kasus yang sama pada tahun 1995. Bagaimana praktik ini bisa aman?Surabaya-(SSOnline)Penampilannya kalem dan murah senyum. Namun siapa sangka, dr Edward Armando ini menjadi ‘raja aborsi’. Dokter berusia 62 tahun ini tega merontokkan janin bayi dalam kandungan. Hanya dengan imbalan Rp 3 juta, pria berkamata ini mau menggugurkan kandungan para pasien dalam tempo kurang 15 menit.
Sudah lebih 10 tahun dr Edward membuka praktik aborsi ilegal di kawasan Jl Dukuh Kupang Timur X No 4 Surabaya. Namun, selama kurun waktu itu hanya sekali saja berurusan dengan polisi. Polda Jatim menggerebeknya sekitar tahun 1995. Itupun ketika lokasi praktik dr Edward masih di kawasan Kupang Gunung Timur. Namun ujung-ujungnya dr Edward dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan dan akhirnya bebas.

Selepas itu, dr Edward kembali leluasa membuka praktik aborsi tanpa tersentuh aparat penegak hukum. Padahal, jika dilihat lokasi tempat praktiknya, sangat mustahil aksi ini luput dari pantauan petugas. Markas Koramil hanya berjarak sekitar 100 meter. Bahkan dari Mapolresta Surabaya Selatan tak sampai memakan waktu 5 menit perjalanan. Tapi kenapa praktinya aman-aman saja?

Dari penelusuran yang dilakukan , tempat praktik dr Edward ini ternyata dijaga oknum berambut cepak. Entah itu aparat betulan atau gadungan. Tempat praktek dr Edward sering `dikunjungi` orang-orang tertentu untuk menarik `upeti`. Dokter asal Gedangan Sidoarjo ini, mengaku hampir 50 persen pendapatannya digunakan untuk membayar `jatah keamanan`.
Parahnya, sejumlah wartawan gadungan tanpa surat kabar atau lebih dikenal dengan istilah wartawan `bodrex` juga rutin meminta uang `tutup mulut`. Nilainya tak seberapa, hanya Rp 25 ribu sampi Rp 50 ribu. Namun setiap `bodrex` dalam sebulan bisa dua sampai tiga kali meminta jatah.

“Tak kurang antara 20 sampai 30 wartawan rutin meminta jatah. Biasanya kedatangan mereka telah dikonfirmasikan dulu. Jadi pas gerombolan ini datang, sang tuan rumah sudah siap menyambutnya dengan `amplopan`,” terang sumber yang mengaku kenal dekat dengan para pembantu dr Edward.
Selain itu, setiap 12 jam sekali selalu ada masing-masing tiga orang yang bergantian menjaga tempat praktik berpagar hijau ini. Untuk menghilangkan kesan mencolok, preman tersebut hanya mengawasi dari perempatan, tak jauh dari tempat praktik.

Jika ada orang berhenti di depan rumah, salah satu preman tersebut baru menanyakan maksud dan tujuannya. “Preman-preman ini jarang berkomunikasi dengan orang yang tak dikenal,” imbuh sumber ini, yang meminta identitasnya tak disebutkan.

Pernah ada wartawan sebuah harian terbitan Surabaya yang mencoba menyamar dan berhasil masuk ke dalam tempat praktek dokter alumnus FK Unair ini. Namun aksinya ketahuan dan kena semprot salah satu `penjaga`. “Mas, Anda wartawan ya, mau apa kok masuk ke sini? Kalau mau uang jatah, isi buku daftar tamu dulu. Nanti biar diurus. Jangan coba macam-macam. Silakan lapor polisi, kalau tidak terima,” ucap preman itu, seperti ditirukan sumber.

Wartawan itu kemudian menceritakan pengalaman pahitnya ke salah satu anggota polisi di kawasan Surabaya Selatan. Namun yang diberitahu cuma menanggapi dingin. “Kalau sampeyan bisa memberikan buktinya, pasti kami tindak,” ujarnya kala itu.
Karena kecewa, wartawan yang juga sebelumnya pernah bekerja di tempat hiburan malam itu akhirnya menulis pengalamnnya ke dalam berita di sebuah surat kabar harian. Dan seperti yang sudah diduganya, tak ada respon dari aparat penegak hukum waktu itu.
Fenomena ini seolah menyiratkan ada sesuatu antara petugas dengan tempat praktek dr Edward. Minimal praktek tahu sama tahu telah ada dalam masalah ini. Lebih menarik lagi, mengapa harus selalu Polda yang turun tangan langsung? Lalu di mana petugas dari Polresta Surabaya Selatan dan Polwiltabes yang sebenarnya juga bertanggungjawab karena lokasi praktek aborsi ini masuk wilayah hukum mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu bisa dijawab sendiri oleh masyarakat yang selama ini meresahkan adanya lokasi aborsi tersebut.

Senin, 25 Oktober 2010

SEKS REMAJA DAN ABORSI

Aborsi pun akhirnya menjadi buah simalakama di Indonesia.Di sisi lain aborsi dengan alasan non medik dilarang dengan keras di Indonesia tapi di sisi lainnya aborsi ilegal meningkatkan resiko kematian akibat kurangnya fasilitas dan prasarana medis , bahkan aborsi ilegal sebagian besarnya dilakukan dengan cara tradisonal yang semakin meningkatkan resiko tersebut.

Angka kematian akibat aborsi mencapai sekitar 11 % dari angka kematian ibu hami dan melahirkan , yang di Indonesia mencapai 390 per 100.000 kelahiran hidup , sebuah angka yang cukup tinggi bahkan untuk ukuran Asia maupun dunia.

Tapi ada satu hal yang perlu di garis bawahi mengenai hal ini.Angka kematian akibat aborsi itu adalah angka resmi dari pemerintah, sementara aborsi yang dilakukan remaja karena sebagian besarnya adalah aborsi ilegal. Praktek aborsi yang dilakukan remaja sebagaimana dilaporkan oleh sebuah media terbitan tanah air diperkirakan mencapai
5 juta kasus per tahun, sebuah jumlah yang sangat fantastis bahkan untuk ukuran dunia sekalipun.Dan karena ilegal aborsi yang dilakukan remaja ini sangat beresiko berakhir dengan kematian.


Pro Live v.s Pro Choise

Pada tahun 1996 terjadi peristiwa yang mengejutkan publik Amerika , Paul Hill seorang mantan pendeta Presbyterian menyerang klinik aborsi Ladies Center di Pensacola, Florida dan menembak mati dua orang dokter dan seorang perawat serta melukai beberapa orang lainnya.

Peristiwa tersebut menandai titik ekstrim dari peseteruan kelompok pro live dan pro choise di Amerika Serikat. Isu aborsi yang terbagi dalam kedua mazhab besar ini bisa menyebabkan seorang politisi di Amerika Serikat naik atau terdepak dari kursinya. Perdebatan antara kedua kutub ini mulai terjadi ketika aborsi dilegalkan di Amerika Serikat pada tahun 1973.Pro Live berargumen bahwa setiap manusia termasuk yang belum lahir memiliki hak untuk hidup, dan hak seseorang untuk hidup merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia universal, sementara kelompok pro choise beranggapan bahwa seorang perempuan
berhak menentukan pilihan atas tubuhnya, dan hak menentukan pilihan adalah hak asasi manusia yang harus dilindungi.

Kubu pro choise semakin menguat bukan saja di Amerika melainkan juga di dunia pada masa Bill Clinton berkuasa. Kebijakan pemerintah Amerika Serikat pada waktu itu menguntungkan kubu pro choise diantaranya pengucuran dana pemerintah kepada klinik-klinik aborsi (yang kemudian dihentikan pada masa George W Bush berkuasa).
Selain itu di dunia internasional pemerintah Amerika Serikat berhasil mensponsori dan mempengaruhi banyak negara di dunia untuk mendukung kebijakan yang condong ke kutub pro choise dalam konvensi-konvensi badan dunia PBB dalam hal kependudukan,
keluarga dan perempuan.


Kebijakan Aborsi di Indonesia

Indonesia termasuk salah satu negara yang menentang pelegalan aborsi dalam konvensi-konvensi badan dunia PBB, satu kubu dengan negara-negara muslim dunia ,sebagian negara Amerika Latin dan Vatikan.

Di Indonesia aborsi dianggap ilegal kecuali atas alasan medis untuk menyelamatkan nyawa sang ibu. Oleh karena itulah praktek aborsi dapat dikenai pidana oleh negara. Fatwa lembaga keagamaan pun rata-rata mendukung kebijakan pemerintah tersebut , misalnya fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah tahun 1989 tentang aborsi yang menyatakan bahwa aborsi dengan alasan medik diperbolehkan dan aborsi dengan alasan non medik diharamkan.

Akan tetapi bisakah Indonesia digolongkan dalam kubu pro live. Jawabnya bisa ya bisa tidak. Walaupun kebijakan pemerintah Indonesia dengan melarang parktek aborsi condong ke kubu pro live akan tetapi kebijakan lainnya justru mendorong terjadinya
praktek aborsi. Diantaranya larangan bagi siswa/i yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah untuk menikah. Kebijakan inilah yang mendorong terjadinya praktek aborsi, siswi yang hamil akan dikeluarkan dari sekolah dan dilarang untuk melanjutkan studynya, selain oleh karena tekanan orang tua, masyarakat dan lingku-ngan. Karena itulah aborsi menjadi pilihan terbaik dari yang terburuk yang bisa diambil oleh seorang remaja yang hamil di luar nikah.


Penutup dan Analisa

Memang mencegah lebih baik daripada mengobati. Memberi pengetahuan mengenai beresikonya melakukan seks pra nikah atau sex bebas adalah salah satu metode paling tepat untuk menurunkan resiko kehamilan di luar nikah. Akan tetapi ketika nasi telah menjadi bubur apa tindakan kita.Apakah kita hanya terbatas pada menghukum dan
menghakimi mereka saja.

Kesalahan mereka tidak bisa dilepaskan dari kesalahan kita juga, baik sebagai orang tua, pendidik maupun komponen masyarakat lainnya. Oleh karena itulah perlu dicarikan sebuah solusi yang tepat dalam menangani masalah ini.

Indonesia memang bukan seperti negara maju, dimana mereka sudah berpengalaman dalam menangani masalah-masalah seperti ini dengan melibatkan semua pihak, baik orang tua, para guru, teman-temannya di sekolah bahkan juga pemerintah. Sementara Indonesia yang merupakan negara yang bertransisi dari masyarakat tradisonalis ke masyarakat modern bahkan pra modern tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi
persoalan ini. Sehingga aksi-aksi yang dilakukan pun lebih banyak merupakan aksi panik seperti halnya mengeluarkan siswi hamil tersebut.

Resiko meningkatnya perilaku seks pra nikah dan seks bebas tidak dapat dihindari akibat perkembangan budaya modern dan meningkatnya usia pasangan nikah. Tapi sangat disayangkan apabila pemerintah dan juga kalangan pendidik dan komponen masyarakat tidak memiliki sebuah konsep yang terarah dan jelas untuk menghadap fenomena sosial ini. Peningkatan usia nikah harusnya juga diikuti dengan pembekalan mengenai sex pada kalangan remaja sehingga mereka bisa mengendalikan diri dan menjauhi perilaku sex beresiko tersebut. Akan tetapi budaya sex tabu menempatkan kalangan remaja seperti anak kecil yang dipandang dan dianggap tidak perlu tau masalah sex.

Selain itu perlu ada jaminan, bila memang pemerintah mengambil kebijakan pro live seharusnya diikuti kebijakan-kebijakan lain yang sifatnya melindungi hak kalangan remaja bila mereka mengalami kehamilan di luar nikah , diantaranya hak untuk meneruskan pendidikan, hak untuk mendapatkan fasilitas perawatan medis dan psikis yang memadai serta jaminan perawatan terhadap bayi yang akan dilahirkannya.
Apabila jaminan-jaminan seperti ini tidak mampu disediakan oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat maupun komponen masyarakat lainnya termasuk orang tua dan pendidik, maka kebijakan pelarangan aborsi menjadi kontra produktif bagi
remaja, dan pencegahan praktek aborsi ilegal oleh remaja menjadi sia-sia.